Kesiapan Mental (Tersangka) Koruptor

Dalam bidang ilmu penyakit tumbuhan yang saya kuasai,  ada adagium yaitu bahwa  “kondisi sakit pada tanaman adalah kekecualian, karena pada umumnya, tanaman berada dalam kondisi sehat”.  Penyakit tanaman hanya akan terjadi jika ada mikroorganisme yang virulen, berinteraksi dengan tanaman inang yang rentan, sementara kondisi lingkungan sekitar tanaman tersebut mendukung bagi terjadinya infeksi.

Korupsi pun, yang kini disebut sebagai penyakit masyarakat, nampaknya memenuhi adagium tersebut.  Untuk terjadinya korupsi, maka si calon koruptor harus virulen (ganas, kemaruk uang, dan kuat), kemudian faktor keduanya adalah adanya uang atau barang yang akan dikorupsinya, serta kondisi lingkungan juga mendukung terjadinya korupsi.  Nah tulisan ini lebih menyoroti tentang si patogen (dalam kasus penyakit tanaman) dan si koruptor (dalam kasus korupsi).

Iseng-iseng saya mengamati tampilan para koruptor (atau tersangka koruptor) di TV, rasanya memang mereka itu sudah siap lahir bathin.  Lihatlah raut muka, sikap, dan gestur tubuhnya.  Tak ada yang nampak kikuk, tak ada rasa malu, atau penyesalan.  Dalam mengajukan alasan atau pembelaan terhadap perilaku mereka, mereka ternyata sangat pintar bersilat lidah, tidak kalah oleh para pengacara (yang memang sudah pekerjaannya untuk bersilat lidah).

Membandingkan dengan diri saya, terus terang, baru dituduh saja, saya mungkin sudah berpikir untuk bunuh diri saja.  Jangankan menghadapi pengadilan tipikor, hujatan masyarakat, dan apalagi pengadilan akhirat, harus berhadapan muka saja dengan keluarga, dan bayangan ayah dan ibu, saya sudah tidak akan sanggup melakukannya.  Sedangkan teman saya yang sedang berkasus, masya Allah, jauh beda benar dengan perilakunya yang saya kenal semasa kami berjuang meraih beasiswa studi lanjut ke luar negeri.  Raut mukanya tetap tenang, senyum selalu menghias wajahnya, seolah tampak tiada penyesalan atau rasa berdosa.  Amazing!!

Kesimpulannya, menurut saya, jadi koruptor itu harus siap mental.  Saya percaya bahwa tidak semua orang akan sanggup menyandang status (tersangka) koruptor. Makanya kalau kira-kira belum layak, tak usahlah mencoba melakukan korupsi.